You are here: Home > me-myself-mine > 100 days without my Mom

100 days without my Mom

rasanya tidak benar kalau berbicara, memanggil, bahkan terus-menerus menangisi orang yang sudah meninggal. namun sejujurnya logika ini kadang tidak bisa diterima ketika rindu menyeruak dalam jiwa. apalagi jika orang yang telah tiada & dirindukan itu adalah ibu kita.

tepat hari ini, 2 hari setelah hari ibu & sehari sebelum hari Natal, adalah 100 hari meninggalnya mama saya. & selama 100 hari pula saya merindukannya. & tentu saja saya semakin menyadari bahwa rasa rindu itu tidak akan berhenti di tahun² selanjutnya.

saya yakin, banyak anak di dunia ini yang diizinkan mengalami pengalaman kehilangan sosok seorang ibu. dulu, kata orang² semakin engkau dewasa, semakin mampu engkau mengontrol dirimu sendiri. tapi rupanya itu tidak berlaku ketika kita mengalami kehilangan. lagi²… kalau yang hilang & pergi adalah seorang ibu. rasanya tetap saja, ada yang hilang, ada yang kurang, &… ah tidak terkatakan.

tidak bermaksud membuat orang yang masih memiliki ibu lantas mengasihani kami yang sudah kehilangan ibu, tapi mungkin bisa memberikan suatu perenungan, untuk benar² memuliakan ibu jika dia masih ada di samping kita. jangan sampai menyesal di kemudian hari.

kepergian mama meninggalkan kekosongan yang tidak terjelaskan. banyak hal yang terpikirkan, tapi sulit diungkapkan. begitu banyak kenangan bersamanya yang terpampang didepan mata. apapun aktivitas yang saya lakukan, pasti akan membuat saya terhenyak beberapa lama teringat bagaimana dulu saya melakukannya bersama mama. namun yang paling tidak tertahankan adalah rindu.

bicara soal rindu… sejak kepergian mama untuk selamanya, rasa rindu bisa muncul tiba² di mana saja & di situasi apa saja. aneh sih, tapi begitulah misteri rasa rindu itu. tidak peduli di keramaian sekalipun, kalau mengingat mama, ya pasti rindu. sehingga kadang² harus pintar² menyembunyikan emosi.

tidak hanya rindu, sering kali pula, kami yang telah kehilangan ibu berandai-andai. seandainya ibu masih ada, mungkin kami akan sering selfie bersama. seandainya ibu masih ada, mungkin aku akan…, seandainya ibu masih ada mungkin akan lebih banyak hal berbeda yang terjadi. juga seandainya ibu masih ada, mungkin banyak hal² berat yang bisa dilalui dengan lebih ringan. sedalam itulah kehadiran seorang ibu dalam hidup anak²nya.

untuk kita yang merindukan ibu yang sudah tiada di momen hari ibu ini, jangan malu untuk bersedih namun jangan pula terpuruk dalam kesedihan. rindu tidak dilarang, tapi ingatlah bahwa ibu tidak pernah menginginkan anak²nya menangis & larut dalam kesedihan. berbahagialah untuk ibu!

jika ibumu masih ada di dunia, jangan pernah sia²kan kesempatan yang ada untuk memuliakannya, ibu layak menerima segala kebaikan & kebahagiaan.

& karena besok hari Natal, saya ingin mengucapkan, “Selamat Natal, Mama”. ini pertama kalinya saya merayakan Natal dengan ‘berat’ sekali, karena inilah Natal pertama saya tanpa Mama. segala perasaan campur aduk di dalam diri saya, tapi hidup harus tetap berjalan & entah sampai kapan saya harus merasa kehilangan seperti ini. mungkin hingga akhir hayat nanti? hanya TUHAN yang tahu… sampai ketemu lagi, Mama…

 

 

 

Tags: , , , ,

ⓔⓢⓣⓘⓐⓝⓣⓘ.ⓟⓤⓢⓟⓘⓣⓐ.ⓓⓔⓦⓘ

Leave a Reply